Makassar – bidikterkini.com | 24 November 2025 — Di tengah hiruk-pikuk perkembangan pendidikan di Indonesia, kisah seorang pemuda perantau kembali mengingatkan kita bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari kenyamanan.
Adalah Wawan Copel, pemuda asli Kabupaten Bantaeng yang memilih merantau ke Kota Makassar untuk mengabdikan hidupnya sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta. Dengan bekal keberanian dan tekad untuk membawa perubahan, ia melangkah meninggalkan kampung halaman demi mengejar panggilan hati sebagai pendidik.
Menjadi guru honorer bukanlah perjalanan yang mudah. Minimnya fasilitas, keterbatasan pendapatan, serta tuntutan profesionalisme sering kali menjadi tantangan harian. Namun bagi Wawan, setiap tatapan antusias para siswa adalah alasan untuk terus bertahan dan memberikan yang terbaik.
“Bagi saya, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah bentuk pengabdian,” ungkapnya.
Di momentum 24 November, saat seluruh Indonesia memperingati Hari Guru, perjalanan Wawan menjadi pengingat bahwa masih banyak pendidik yang bekerja dalam sunyi namun memiliki peran besar dalam mencerdaskan generasi. Ia adalah satu dari ribuan guru honorer yang menjadikan ruang kelas sebagai ladang perjuangan, dan masa depan anak bangsa sebagai tujuan utama.
Kisah Wawan adalah potret nyata bahwa menjadi guru tidak memerlukan sorotan, tetapi ketulusan. Bahwa merantau bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang memberi arti
#wawancopel


