Oleh: K.Panjaitan, S.I.P
Pengamat Politik Lulusan FISIP UNPAS Bandung
Aceh Timur – bidikterkini.com | Dinamika politik di Kabupaten Aceh Timur belakangan ini kembali menarik perhatian publik. Isu personal yang menjerat orang nomor satu di daerah tersebut, Bupati Iskandar Usman Alfarlaky, nyatanya masih dijadikan komoditas politik oleh pihak-pihak tertentu secara pragmatis. Jika ditelaah lebih dalam, upaya ini bertujuan semata untuk memanipulasi opini publik, dan ironisnya, pada akhirnya masyarakat luaslah yang akan menjadi korban.
Perkembangan isu temporer ini sempat menuai polemik yang cukup panas. Namun, situasi mulai berubah usai Bupati mengambil langkah tegas dengan menggelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi menyeluruh. Sejak saat itu, atmosfer politik di Aceh Timur mulai mencair dan mereda. Masyarakat pun mulai memahami akar persoalan serta siapa dalang sebenarnya di balik kemelut yang terjadi.
Isu ini pada dasarnya dibangun dan disebarkan melalui berbagai platform media digital dengan tujuan mempengaruhi persepsi publik. Awalnya, masyarakat sebagai konsumen informasi cenderung menelan mentah-mentah berita yang beredar, terlebih sang objek isu sempat memilih untuk berdiam diri. Namun, setelah klarifikasi disampaikan, barulah publik mendapatkan informasi yang berimbang dan mulai berpikir jernih.
Ironisnya, saat situasi mulai dingin dan tidak memanas lagi, justru hadir “pemain lain” yang mencoba melakukan blow up politik atau manuver kotor di media sosial. Terlihat belakangan ini, seorang Anggota DPRA Aceh kader partai nasional berusaha keras memanaskan kembali api yang hampir padam.
Ibarat nasi yang sudah basi kemudian berusaha digoreng kembali agar bisa dinikmati, upaya ini jelas terlihat paksa dan tidak natural. Masyarakat kini sudah semakin cerdas dan kritis. Mereka tentu bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan di balik upaya menghangatkan kembali isu yang sudah mulai mati tersebut, apalagi dilakukan oleh seorang elit politik yang seharusnya bijak bersikap.
Dalam perspektif ilmu politik, tindakan yang dilakukan oleh anggota dewan tersebut dapat dikategorikan sebagai Character Assassination atau pembunuhan karakter. Ini adalah strategi politik yang tidak lagi mengedepankan kebenaran fakta, melainkan mengutamakan pencapaian tujuan dengan cara menghancurkan reputasi lawan melalui fitnah, rumor, dan manipulasi informasi.
Pendekatan ini merupakan bentuk politik pragmatis yang mengutamakan hasil akhir di atas prinsip moral, etika, atau kebenaran substansial. Padahal, dalam teori kepemimpinan dan etika politik, tindakan semacam ini sangat berbahaya karena meracik kedewasaan berdemokrasi dan memecah belah kohesi sosial.
Masyarakat Aceh Timur sebenarnya berharap, Bupati “Garang” Iskandar Usman Alfarlaky segera meninggalkan konsentrasi pada isu murahan tersebut. Sudah saatnya kembali fokus penuh membangun dan melayani rakyat yang saat ini masih terpuruk pascabencana banjir dan longsor.
Di sisi lain, upaya politikus lokal yang bersifat pragmatis tersebut sama sekali tidak mencerminkan sosok wakil rakyat yang seharusnya menjadi suri tauladan. Alih-alih menyejukkan, justru memperkeruh suasana. Tindakan ini sangat kontraproduktif dan menyimpang dari kewajiban sebenarnya sebagai representasi rakyat.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat sudah tidak lagi tertarik membahas isu tersebut; di sudut-sudut warung kopi pun perbincangan tentang hal ini sudah mulai sepi. Yang rakyat butuhkan adalah kerja nyata, solusi atas masalah, perbaikan infrastruktur, dan perhatian terhadap pemulihan pascabencana, bukan retorika menyesatkan atau pencitraan politikus semata.
Sudah saatnya menghentikan upaya pembunuhan karakter tersebut. Lebih baik alihkan energi untuk memikirkan kepentingan masyarakat banyak dan memberikan edukasi politik yang positif bagi masyarakat , bukan justru menyebarkan kebencian dan kegaduhan yang tidak berujung.


