ACEH TIMUR — bidikterkini.com | Proyek lanjutan pembangunan Irigasi Jambo Aye Sayap Kanan di Kabupaten Aceh Timur kini menuai sorotan tajam. Lokasi pekerjaan yang terletak di Desa Seuneubok Saboh, Kecamatan Pante Bidari, tersebut diduga sarat dengan berbagai penyimpangan dan kejanggalan.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan, sejumlah bagian bangunan irigasi sudah tampak retak, bocor, bahkan mengalami kerusakan dini, padahal proyek tersebut belum rampung sepenuhnya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait mutu material dan metode pengerjaan yang digunakan oleh pihak pelaksana.
“Baru selesai beberapa bulan, sudah banyak bagian yang pecah dan bocor. Kalau seperti ini, bagaimana bisa awat bertahun-tahun? Jelas ada yang tidak beres,” ujar, Nurdin warga Desa Seuneubok Saboh, Sabtu (19/10).
Menurutnya, sejak awal masyarakat sudah mencurigai adanya kejanggalan dalam penggunaan material bangunan. “Pasirnya terlalu kasar, semen tampak encer, dan pengerjaannya juga terkesan tergesa-gesa. Kami ragu kalau ini sesuai standar nasional konstruksi,” tambahnya.
Lebih mengejutkan lagi, di papan nama proyek (plang proyek) yang terpasang di lokasi, tidak tercantum besaran anggaran, sumber dana, serta nomor kontrak kerja sebagaimana lazimnya pada proyek pemerintah. Hal ini menambah kuat dugaan adanya ketidaktransparanan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Biasanya di plang proyek ada nama kegiatan, pelaksana, waktu pelaksanaan, dan nilai anggaran. Tapi di sini tidak ada jumlahnya. Publik jadi tidak tahu berapa besar uang negara yang dipakai,” kata Ibrahim, tokoh masyarakat setempat yang juga aktif memantau proyek pembangunan di wilayah itu.
Padahal, keberadaan papan nama proyek merupakan bagian dari kewajiban transparansi publik, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tidak mencantumkan nilai anggaran dianggap sebagai pelanggaran administratif dan bisa menjadi indikasi penyimpangan dalam pengelolaan dana pembangunan.
Selain itu, beberapa sumber internal menyebutkan bahwa pekerjaan dilakukan tanpa pengawasan ketat dari konsultan. “Seharusnya setiap tahap pembangunan ada pengawasan teknis, tapi yang kami lihat, pengawas jarang ke lokasi. Hanya beberapa kali datang, itu pun sekilas,” ungkap salah seorang pekerja lapangan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Proyek ini juga dinilai bermasalah dari sisi perencanaan dan pemilihan lokasi. Sejumlah ahli menilai, pembangunan saluran di daerah dengan kontur tanah labil dan rawan longsor tidak melalui kajian teknis yang matang. Akibatnya, risiko keretakan dan pergeseran tanah sangat tinggi.
“Kesalahan dalam memilih lokasi akan berdampak langsung pada umur konstruksi. Kalau ditambah dengan bahan yang tidak sesuai standar, maka bisa dipastikan irigasi itu tidak akan bertahan lama,” jelas Dr. Saifullah, M.Si, akademisi Universitas Almuslim yang sering menyoroti isu pembangunan di Aceh.
Ia menegaskan, proyek irigasi bukan sekadar pekerjaan fisik, tapi menyangkut hajat hidup petani yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air. “Kalau irigasi rusak sebelum panen tiba, dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat tani. Ini bukan sekadar bangunan retak, tapi ancaman terhadap ketahanan pangan,” tegasnya.
Sementara itu, aktivis pemuda Pante Bidari, Saipul Ismail SF, yang meliputi pembangunan inprastruktur proyek irigasi. jambo aye kanan lokasi pekerjaan saat ini di Desa Seuneubok Saboh tersebut saratnya masalah dan juga ada kepentingan pribadi oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab terutama terhadap pemuda Gampong dan masyarakat sangat wajar dan patut dicurigai hingga diaudit.
“Kami menduga ada permainan volume dan material. banyak bagian yang tipis dan mudah hancur, seolah dikerjakan hanya untuk menggugurkan kewajiban. Pemerintah harus turun tangan sebelum rakyat kehilangan kepercayaan,” ujarnya.
Sulaiman dan M. Nur/Muhammad. SKJ dan Basari mereka selaku masyarakat desa Seuneubok Saboh juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan dari pemerintah daerah. Kabupaten Aceh Timur, yang ditujukan yaitu Dinas PUPR Aceh Timur terkait tidak serius, mereka mengetahui kondisi di lapangan seperti ini.
Pasalnya, jika masyarakat semua diam, berarti ada yang harus dijelaskan kepada publik,” katanya dengan nada tegas. kekecewaan khususnya masyarakat” Desa Seuneubok Saboh kian merasa semakin gagal dalam paham karena proyek raksasa pembangunan inprastruktur irigasi jambo aye kanan D.l “tahap lll Aceh Timur Pante Bidari, yang seharusnya wajib memberi manfaat bagi pertanian justru terancam menjadi proyek gagal guna. Saluran irigasi yang bocor dan retak bisa menghambat distribusi air ke sawah-sawah warga di sepanjang aliran Jambo Aye, yang mencakup beberapa kecamatan.
“Air tidak akan mengalir dengan lancar kalau dindingnya bocor. Kami petani hanya bisa menunggu. Kalau proyek ini gagal, kami yang paling dirugikan,” kata Hasan Nuddin, salah satu dari petani dari Desa Blang Seunong.
Hingga berita ini di ekspos ke publik sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Timur maupun kontraktor pelaksana proyek. Namun masyarakat berharap agar aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan Negeri Idi dan Inspektorat, segera melakukan investigasi lapangan.
“Jangan tunggu sampai bangunan jebol baru diperiksa. Uang rakyat harus dijaga. Kalau terbukti ada penyelewengan, tindak tegas siapapun yang terlibat,” tegas Ibrahim menutup keterangannya.
saat di konfirmasi, resmi oleh Pewarta Media ini lewat nomor telpon +62 853-4295-XXXX via WhatsApp nya. salah satu vendor proyek alias
Nyak Tam mengatakan pada media iniproyek irigasi tersebut tidak ada anggaran nya kami hanyalah orang kerja. ujarnya
Sayang Menajer proyek irigasi tersebut beberapa kali media ini saat meng hubungi salah satu orang yang bertanggung jawab terhadap proyek irigasi tersebut lewat nomor +62 852-7779-XXXX. via WhatsApp namun pihak menajer proyek irigasi mengabaikan konfirmasi tersebut,
Publik kini menanti langkah nyata pemerintah daerah. Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab moral dan hukum. Sebab proyek fisik tanpa kejujuran hanya akan meninggalkan tembok retak dan janji kosong.
Reporter Tim Investigasi: Saipul Ismail SF


