ACEH TIMUR — bidikterkini.com | Puluhan tahun menguras kekayaan alam di Wilayah Kerja Blok A, PT Medco E&P Malaka dinilai gagal membangun hubungan yang transparan dan harmonis dengan insan pers di Kabupaten Aceh Timur. Perusahaan besar yang mengeruk hasil bumi bernilai triliunan rupiah ini justru dituding menerapkan pola penanganan media yang diskriminatif.
Meskipun memiliki divisi hubungan masyarakat (Humas) hingga tim khusus lingkar tambang, akses konfirmasi tetap tersumbat. Wartawan yang ingin menjalankan fungsi kontrol sosial kerap menghadapi dinding tebal.
Humas PT Medco E&P Malaka, Rahmat Idris, berulang kali dihubungi wartawan untuk konfirmasi berita melalui pesan dan panggilan WhatsApp. +62 812-6957-XXXX. Namun, upaya tersebut konsisten diabaikan tanpa kejelasan.
Manfaat Hasil Bumi Hanya Dirasakan Segelintir Oknum
Kritik terhadap PT Medco E&P Malaka tidak hanya datang dari media, tetapi juga masyarakat luas. Asumsi publik makin menguat bahwa limpahan hasil bumi Blok A belum memberikan dampak ekonomi yang merata.
Manfaat kehadiran perusahaan tambang ini disinyalir hanya dinikmati oleh segelintir oknum. Sementara itu, warga di kawasan lingkar tambang masih harus menelan dampak operasi tanpa merasakan kesejahteraan yang seimbang.
Dugaan ‘Upaya Pembungkaman’ Berkedok Kunjungan ke Medan
Di tengah gempuran sorotan kritis masyarakat, langkah mencurigakan justru diambil oleh manajemen perusahaan. Sejumlah awak media pilihan diberangkatkan dari Aceh Timur menuju Medan, Sumatera Utara.
Kunjungan tersebut disinyalir bukan sekadar ajang silaturahmi atau edukasi media. Muncul dugaan kuat bahwa langkah ini merupakan strategi terselubung untuk menjinakkan daya kritis wartawan agar tidak membongkar berbagai kelemahan kinerja PT Medco E&P Malaka.
“Ini terkesan seperti upaya pembungkaman suara kritis. Wartawan yang butuh konfirmasi justru diabaikan, sedangkan yang diajak jalan-jalan diseleksi secara sepihak. Kemitraan model apa ini?” tegas salah satu wartawan Aceh Timur yang ditinggalkan rombongan.
Tuntutan Transparansi dan Kemitraan Setara
Sikap tertutup perusahaan minyak dan gas ini makin memperburuk citra korporasi di mata publik. Insan pers di Aceh Timur mendesak PT Medco E&P Malaka untuk segera menghentikan praktik tebang pilih dan mulai membangun keterbukaan informasi publik.
Perusahaan dituntut menjalin kemitraan yang adil dengan seluruh lini media, bukan hanya merangkul pihak-pihak tertentu demi mengamankan narasi positif.
Laporan: Saiful Ismail SF (Pon)
Jabatan: Koordinator Liputan Provinsi Aceh


