MAKASSAR — bidikterkini.com | Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) menyoroti tajam insiden penikaman antar-sopir truk di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. AKPERSI menilai tragedi berdarah akibat dugaan penyerobotan antrean Solar tersebut merupakan imbas nyata dari lemahnya pengawasan PT Pertamina Patra Niaga dan Aparat Penegak Hukum (APH) di lapangan.
Kejadian yang menimpa Aswandi (30) hingga harus dilarikan ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo ini dipandang bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan cermin dari pembiaran sistemik terhadap fenomena kelangkaan dan kelapukan manajemen antrean BBM bersubsidi.
Sorotan Tajam AKPERSI: Pengawasan Lemah, SPBU Rawan Konflik
AKPERSI menilai pembiaran antrean BBM jenis Solar yang mengular hingga berjam-jam—bahkan sejak dini hari—sangat berisiko memicu gesekan sosial antarsopir.
Beberapa poin kritis yang disuarakan AKPERSI meliputi:
Minimalnya Pengawasan Pertamina Patra Niaga: Pertamina dinilai kurang tegas dan responsif dalam membenahi tata kelola antrean di SPBU, terutama untuk jalur kendaraan besar yang rawan diserobot.
Absennya Pengamanan APH di Titik Rawan: APH dianggap kurang sigap melalukan patroli dan penertiban di area SPBU yang kerap terjadi penumpukan kendaraan berjam-jam.
Potensi Kelangkaan dan Pembiaran: Sistem distribusi BBM bersubsidi yang semrawut membuat para sopir harus bertaruh nyawa dan waktu demi mendapatkan Solar.
Desakan Tindak Lanjut: Usut Tuntas dan Evaluasi Total
AKPERSI mendesak agar pihak kepolisian tidak hanya berfokus pada penindakan hukum terhadap pelaku penikaman, tetapi juga mengevaluasi aspek keamanan di SPBU terkait. Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga dituntut untuk segera membenahi sistem pengawasan BBM bersubsidi agar insiden serupa tidak terulang di wilayah Sulawesi Selatan.
Pernyataan AKPERSI: “Jika pengawasan dari Pertamina Patra Niaga dan APH berjalan optimal di SPBU, antrean berjam-jam hingga aksi penyerobotan yang memicu korban jiwa ini sebetulnya bisa diantisipasi sejak awal.”


