Bantaeng – bidikterkini.com | Musda KNPI Bantaeng dengan tema “Nexus Pemuda Inklusif, Akselerasi Bantaeng Bangkit” bukan sekadar momentum pergantian kepemimpinan, melainkan ruang untuk kembali merajut persaudaraan, menyatukan perbedaan, dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan pemuda Bantaeng. Di tengah dinamika dan persaingan, selalu ada ruang bagi mereka yang datang bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk merangkul sesama. Sebab, kepemimpinan yang sesungguhnya tidak selalu dimulai dari suara yang paling lantang, melainkan dari hati yang lapang dan kesediaan untuk mendengarkan.
Juswansar Syafaat, yang akrab disapa JUS, hadir dengan nama yang menyimpan makna kesejukan. Sebuah nama yang terasa sederhana, tetapi menyimpan harapan tentang sosok yang mampu menjadi ruang penerimaan bagi berbagai kalangan. JUS tidak harus menjadi milik satu kelompok, satu golongan, atau satu kepentingan. Ia bisa menjadi titik temu bagi mereka yang berbeda pandangan, berbeda latar belakang, tetapi memiliki cita-cita yang sama: melihat pemuda Bantaeng tumbuh, bergerak, dan mengambil peran dalam pembangunan daerah. Sebab, kesejukan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa banyak orang yang berdiri di belakangnya, melainkan dari seberapa banyak hati yang merasa diterima di dekatnya.
Potret inklusivitas itu terlihat ketika Juswansar mendaftarkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua KNPI Bantaeng dengan didampingi oleh Nisa, Ketua IMM. Kehadiran keduanya menghadirkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar prosesi pendaftaran. Ada makna tentang ruang bersama, tentang keberanian meruntuhkan sekat, dan tentang keyakinan bahwa kepemimpinan pemuda tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan organisasi maupun identitas. Di tengah dunia yang terkadang sibuk membangun batas, langkah itu seolah mengingatkan kita bahwa persaudaraan selalu menemukan jalannya ketika ada kemauan untuk saling menerima. Inklusivitas bukan hanya kata yang indah di atas spanduk, melainkan sikap yang harus hidup dalam tindakan nyata.
Dengan visi “Pemuda Maju, Berkarya Nyata, Mandiri untuk Bantaeng,” Juswansar membawa keyakinan bahwa pemuda tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan. Pemuda harus menjadi pelaku, pencipta karya, penggerak ekonomi, penjaga nilai demokrasi, sekaligus bagian dari solusi atas persoalan daerah. Ia datang dengan kesederhanaan, tanpa harus bersandar pada nama besar atau kemegahan di belakangnya. Namun, justru di situlah letak keberanian itu, melangkah dengan apa yang diyakini, membawa gagasan yang ingin diperjuangkan, dan menempatkan demokrasi sebagai prinsip dalam setiap proses. Barangkali jalannya tidak selalu mudah, tetapi setiap perjuangan yang lahir dari keyakinan dan ketulusan selalu memiliki alasan untuk diteruskan.
Pada akhirnya, Musda KNPI Bantaeng bukan hanya tentang siapa yang akan terpilih, tetapi tentang bagaimana kita menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan persaingan tidak meruntuhkan persaudaraan. Juswansar Syafaat telah memilih untuk melangkah, membawa nama, visi, dan keyakinannya ke dalam ruang demokrasi. Menang adalah harapan, tetapi menjaga martabat perjuangan adalah kehormatan. Sebab, Bantaeng tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri paling depan, tetapi juga sosok yang bersedia berjalan bersama, merangkul yang berbeda, dan tidak meninggalkan mereka yang suaranya jarang didengar. Jika pemuda mampu merawat kesejukan di tengah persaingan, maka siapa pun yang kelak memimpin, harapan tentang KNPI yang inklusif dan Bantaeng yang bangkit akan tetap hidup. Dan mungkin, di situlah makna terbesar dari sebuah perjuangan, bukan sekadar sampai di puncak, melainkan memastikan semakin banyak orang dapat berjalan bersama menuju ke sana.


