MAMUJU – BidikTerkinicom,Sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat, Kabupaten Mamuju bukan sekadar pusat administrasi. Kota ini adalah barometer pertumbuhan ekonomi sekaligus gerbang utama pengelolaan sumber daya alam di pesisir barat Sulawesi.
Dengan garis pantai membentang 275 kilometer di “Bumi Manakarra” dan berhadapan langsung dengan Selat Makassar—jalur strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II—kita sebenarnya sedang berdiri di atas “harta karun” biru. Data terbaru Dinas Kelautan dan Perikanan menunjukkan potensi ini telah terkonversi menjadi kekuatan nyata. Pada tahun 2025, total produksi perikanan kita telah mencapai angka yang membanggakan, yakni 57.015,82 ton. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan hasil kerja keras kolektif yang dikelola dengan orkestrasi yang tepat.
Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Sutinah Suhardi, visi “Mamuju Keren” (Kreatif, Edukatif, Ramah, Energik, dan Nyaman) menjadi kompas bagi kita. Tantangannya jelas: bagaimana mengubah angka produksi yang masif ini menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang nyata, sembari memastikan nelayan dan pembudidaya menjadi tulang punggung ekonomi yang sejahtera.
Membaca Potensi, Menyusun Strategi Kreatif
Perairan Mamuju adalah jalur migrasi utama ikan pelagis besar seperti Tuna, Cakalang, Tongkol, dan Kerapu. Berdasarkan data tahun 2025, sektor Perikanan Tangkap memberikan kontribusi signifikan sebesar 21.331,01 ton. Untuk memaksimalkan ini, kita tidak bisa lagi bekerja secara konvensional. Semangat Kreatif dan Energik harus masuk ke jantung pelayanan.
Jika sistem pelelangan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dikelola dengan manajemen transparan dan digital, retribusi dari puluhan ribu ton tangkapan ini akan menjadi mesin PAD yang progresif. Kita optimis, sektor kelautan akan menjadi motor utama ekonomi Sulawesi Barat.
Selain tangkapan laut, primadona baru kita adalah sektor budidaya. Tahun 2025 mencatatkan lompatan luar biasa di mana produksi perikanan budidaya mencapai 35.684,81 ton. Dengan wilayah seluas 4.954,57 km², kecamatan seperti Mamuju, Kalukku, dan Papalang telah terbukti menjadi “lahan emas” bagi komoditas Udang Vaname dan Rumput Laut jenis Eucheuma cottonii.
KUSUKA dan Hilirisasi: Negara Hadir Memudahkan
Saat ini, DKP bersama para penyuluh gencar melakukan pemutakhiran data melalui kartu KUSUKA (Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan). Ini bukan sekadar administrasi, melainkan upaya agar intervensi bantuan modal dan kebijakan tepat sasaran bagi para pelaku usaha yang telah menyumbang total 57 ribu ton lebih produk perikanan. Inilah wujud pelayanan yang Ramah dan Nyaman—negara hadir untuk memudahkan, bukan mempersulit.
Ke depan, hilirisasi adalah harga mati. Kita harus berhenti hanya menjual bahan mentah. Dengan angka produksi budidaya yang kini telah melampaui sektor tangkap, Mamuju harus mulai melangkah ke industri pengolahan seperti filleting hingga industri karaginan. Langkah ini akan menciptakan nilai tambah yang berdampak langsung pada kenaikan penerimaan pajak dan lapangan kerja.
Penyuluh Perikanan: Wajah “Mamuju Keren” di Garis Depan
Dalam simfoni pembangunan ini, Penyuluh Perikanan adalah instrumen krusial. Mereka adalah agen Edukatif yang mendampingi masyarakat pesisir sehingga mampu mencapai target produksi besar di tahun 2025. Sinergi DKP dan Penyuluh fokus pada tiga hal utama:
Validasi Data: Memastikan angka produksi sebesar 57.015,82 ton terdokumentasi dengan akurat sebagai dasar kebijakan.
Fasilitasi Investasi: Membina kelompok usaha (KUB/Pokdakan) agar menjadi unit usaha yang mandiri dan kompetitif.
Akselerasi
Program Hijau: Mengedukasi pelestarian mangrove untuk ekowisata dan potensi carbon trading.
Komitmen Perubahan: Responsif dan Tanpa Sekat
Saya menyadari bahwa untuk mempertahankan dan meningkatkan capaian produksi ini, DKP harus bertransformasi menjadi instansi yang lebih responsif.
“Visi saya adalah memberikan pelayanan terbaik.
Kita harus bergeser dari cara lama ke cara kerja yang lebih peka terhadap aspirasi nelayan. Laut adalah aset terbesar Bumi Manakarra, dan DKP harus menjadi garda terdepan pengelolanya,” tegas Muhammad Yusuf.
Sesuai semangat Permen PANRB No. 18 Tahun 2022, koordinasi DKP dan Penyuluh harus berjalan cair.
Nelayan di Tapandullu hingga pembudidaya di Kalukku harus merasakan bahwa pemerintah hadir membawa solusi nyata atas setiap kilogram ikan yang mereka hasilkan.
Penutup: Menjemput Masa Depan di Cakrawala
Masa depan ekonomi Mamuju ada di laut.
Dengan total produksi yang menyentuh 57.015,82 ton—yang terdiri dari 21.331,01 ton hasil tangkap dan 35.684,81 ton hasil budidaya—kita sedang membangun fondasi ekonomi yang kokoh melalui revitalisasi TPI dan penguatan regulasi.
Optimalisasi PAD bukanlah soal membebani rakyat, melainkan menciptakan ekosistem ekonomi yang berkeadilan dari hulu hingga hilir. Sudah saatnya kita berhenti memunggungi laut.
Mari menghadap ke Selat Makassar, kelola potensi 275 kilometer garis pantai kita dengan sinergi yang Keren.
Bersama, kita wujudkan cita-cita: “Allo Campalogana To Mamuju Masannang Masagena” (Hari keberuntungan bagi masyara
kat Mamuju yang bahagia dan sejahtera).


