Makassar, – bidikterkini.com | 8 September 2026 — Pemadaman listrik bergilir kembali dirasakan masyarakat. Persoalan serupa pernah terjadi pada 2023 dan kembali terulang pada 2026.
GARIS Indonesia menilai PLN tidak boleh terus berlindung di balik alasan teknis. Pemadaman berulang harus dijelaskan secara terbuka, termasuk kondisi pembangkit, ketersediaan cadangan daya, serta kesiapan sistem kelistrikan Sulselrabar.
PLN sebelumnya menargetkan pemadaman bergilir tidak lagi terjadi hingga 5 September 2026. Namun, ketika pemadaman masih dirasakan masyarakat setelah batas waktu tersebut, muncul pertanyaan serius: apa yang sebenarnya terjadi dengan sistem kelistrikan Sulselrabar?
Dalam penjelasannya, PLN menyebut adanya pembangkit yang menjalani pemeliharaan, termasuk PLTU Jeneponto berkapasitas 125 MW. Bagi GARIS Indonesia, pemeliharaan pembangkit merupakan hal yang wajar. Namun, PLN tetap harus memiliki perencanaan dan cadangan daya agar gangguan pembangkit tidak terus dibebankan kepada masyarakat melalui pemadaman bergilir.
Siddiq, Kader GARIS Indonesia, menilai persoalan yang kembali terjadi pada 2026 menunjukkan adanya kegagalan mitigasi dari PLN terhadap persoalan yang sebelumnya sudah pernah terjadi.
«“Bagi kami, PLN gagal mengambil langkah mitigasi dari kejadian 2023. Kalau persoalan yang sama kembali terjadi pada 2026, berarti ada yang harus dievaluasi secara serius dalam sistem perencanaan dan antisipasi PLN. Jangan sampai pengalaman 2023 hanya menjadi catatan, tetapi tidak melahirkan langkah pencegahan yang nyata.”»
Siddiq juga menegaskan PLN harus memberikan penjelasan yang jujur kepada publik.
«“PLN jangan hanya sibuk memberikan penjelasan teknis ketika listrik padam. Yang kami pertanyakan adalah tanggung jawabnya kepada rakyat. Kalau pemadaman terus berulang dan target pemulihan tidak sesuai kenyataan, maka PLN harus berani membuka kondisi sebenarnya kepada publik. Jangan rakyat terus diminta bersabar sementara hak mereka atas pelayanan listrik yang andal tidak terpenuhi.”»
Menurut GARIS Indonesia, dampak pemadaman tidak berhenti pada rumah yang gelap. UMKM kehilangan waktu usaha, pekerja terganggu produktivitasnya, aktivitas belajar terhambat, dan berbagai kebutuhan masyarakat ikut terdampak.
GARIS Indonesia juga meminta PLN memberikan kejelasan mengenai hak pelanggan dan mekanisme kompensasi bagi masyarakat yang terdampak sesuai ketentuan yang berlaku.
GARIS INDONESIA MENUNTUT PLN:
1. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembangkit dan jaringan listrik Sulselrabar.
2. Membuka kepada publik kondisi pembangkit, ketersediaan cadangan daya, serta penyebab pemadaman yang masih terjadi.
3. Memberikan kejelasan mengenai hak dan kompensasi pelanggan sesuai aturan yang berlaku.
JIKA TAK ADA KEJELASAN, GARIS INDONESIA SIAP TURUN KE JALAN
GARIS Indonesia memberikan peringatan tegas kepada PLN untuk segera memberikan penjelasan dan langkah konkret terkait pemadaman listrik yang terus berulang.
«“Kami beri kesempatan PLN untuk menjelaskan dan membenahi persoalan ini. Tetapi jika pemadaman terus berulang tanpa solusi yang jelas, GARIS Indonesia tidak akan tinggal diam. Kami akan turun ke jalan dan menyuarakan keresahan rakyat sampai ada langkah konkret dari PLN,” tegas Siddiq.»
2023 pernah terjadi. 2026 kembali terulang.
Pemadaman listrik bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Rakyat berhak mendapatkan listrik yang andal, informasi yang jujur, dan pelayanan yang bertanggung jawab.
PLN harus bertanggung jawab. Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang menanggung kegagalan sistem.


