Simpang Ulim – bidikterkini.com | 25 Oktober 2026 — Sebuah surat curahan hati yang menyayat hati datang dari seorang guru di SMA Negeri 1 Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur. Dua puluh tiga tahun pengabdian, keberhasilan meraih piala Penghargaan Mandala dua kali berturut-turut — semua kebanggaan itu kini berubah menjadi kepahitan di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang baru berjalan delapan bulan.
“Dua puluh tiga tahun… Bukan waktu yang sebentar. Kami merawat sekolah ini, menyiram setiap sudutnya, hingga berhasil membawa pulang piala Mandala dua kali berturut-turut. Namun semua itu hancur dalam sekejap. Hanya butuh delapan bulan bagi seorang pimpinan baru untuk meruntuhkan karya yang kami rajut puluhan tahun.”
Yang paling menyakitkan bukanlah perubahan fisik sekolah, melainkan perlakuan yang diterima. Guru yang dinobatkan sebagai guru berprestasi tingkat dua se-Aceh Timur ini justru mendapat perlakuan yang memilukan dari pimpinan sekolah sendiri.
“Hati saya hancur bukan hanya karena pohon-pohon peneduh itu ditebang habis. Tapi karena harga diri saya sebagai seorang pendidik diinjak-injak. Di depan anak-anak didik yang saya sayangi, saya disebut idiot… dituduh tidak punya tata krama… dan dianggap tidak memiliki kompetensi. Hanya karena saya berani mengajukan sebuah ide.”
Suasana di lingkungan sekolah pun kini berubah. Para pendidik yang seharusnya menjadi teladan justru merasa takut setiap kali melangkah masuk ke sekolah.
“Setiap hari kami ke sekolah dengan rasa takut. Terus-menerus diancam bahwa beliau punya ‘dekingan’ yang kuat. Kami orang kecil, tidak punya siapa-siapa untuk berlindung. Kami hanya punya Allah, dan anak-anak didik kami.”
Air mata yang jatuh hari ini bukan sekadar emosi sesaat. Ini adalah suara hati yang lelah dibungkam, lelah diancam, dan berharap keadilan tidak berpaling dari lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menumbuhkan budi pekerti luhur.
“Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin keadilan, dan kenyamanan sekolah kami kembali seperti sedia kala.”
Pendidikan adalah tentang membangun karakter, menghargai sesama, dan memberi teladan yang baik. Bagaimana kita bisa mendidik anak-anak untuk menghargai orang lain jika pendidiknya sendiri tidak dihargai? Awak media mengundang pihak Kepala Dinas Pendidikan Aceh Timur untuk menindaklanjuti keluhan ini secara bijak dan profesional.
Penulis: Saiful Ismail SF: bidikterkini.com


