PASANGKAYU, SULAWESI BARAT — bidikterkini.com | Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengandalkan ruang kelas, papan tulis, dan buku teks. Di tengah perubahan teknologi yang bergerak cepat, sekolah dituntut mampu melahirkan model pembelajaran yang adaptif sekaligus tetap menanamkan karakter.
Semangat itu tengah dibangun SMAN 1 Pasangkayu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Di bawah kepemimpinan Kepala UPTD SMAN 1 Pasangkayu, Ahfaz, S.Pd., M.Pd., sekolah tersebut mengembangkan sejumlah program yang memadukan teknologi, keterlibatan keluarga, kepedulian lingkungan, kreativitas siswa hingga pendidikan demokrasi.
Transformasi itu terlihat dari wajah baru ekosistem pendidikan yang dikembangkan sekolah. Portal resmi SMAN 1 Pasangkayu menyebut sekolah tersebut mengusung konsep Smart School dengan pendidikan inovatif berbasis teknologi dan penguatan karakter.
Kelas Tak Lagi Berhenti di Ruang Sekolah
Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari transformasi tersebut adalah penggunaan Learning Management System (LMS) Master Study Lophia.
Platform ini menyediakan modul pembelajaran berbasis video, kuis interaktif serta sistem penilaian hasil belajar secara digital. Dengan model tersebut, proses belajar dapat dikembangkan tidak hanya melalui interaksi tatap muka, tetapi juga melalui ekosistem pembelajaran daring.
SMAN 1 Pasangkayu juga mengembangkan pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran. Konsep tersebut mencakup Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning—pembelajaran yang mendorong siswa hadir secara sadar, mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, serta belajar dalam suasana positif dan menyenangkan.
Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sekadar sebagai perangkat tambahan. Ia diarahkan menjadi bagian dari ekosistem belajar.
Ketika Ayah Turun Langsung ke Sekolah
Inovasi SMAN 1 Pasangkayu juga menyentuh ruang yang sering luput dari pembicaraan pendidikan: keterlibatan orang tua, khususnya ayah.
Melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), sekolah mendorong para ayah untuk hadir langsung mengambil rapor dan berdialog dengan wali kelas mengenai perkembangan akademik maupun karakter anak.
Program tersebut dilaksanakan pada penerimaan rapor Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026, Jumat, 19 Desember 2025. Kehadiran ayah diharapkan tidak berhenti pada aktivitas mengambil rapor, tetapi menjadi pintu masuk keterlibatan yang lebih besar dalam perjalanan pendidikan anak.
Kepala SMAN 1 Pasangkayu, Ahfaz, menyampaikan bahwa keterlibatan ayah penting sebagai dukungan moral dan motivasi bagi siswa.
Pesan yang hendak dibangun cukup sederhana: pendidikan anak bukan hanya urusan sekolah dan ibu, tetapi tanggung jawab bersama seluruh keluarga.
Sekolah Nol Sampah, Siswa Diajak Peduli Lingkungan
Di sisi lain, pendidikan karakter juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.
SMAN 1 Pasangkayu mengembangkan program PESONA atau sekolah nol sampah, yang ditopang sejumlah gerakan seperti LISA (Lihat Sampah Ambil) dan SAPULANG.
Program tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teori. Siswa didorong untuk membangun kebiasaan sederhana yang dilakukan langsung di lingkungan sekolah.
Sekolah juga memiliki program literasi LOLITA (Lorong Literasi) dan SUBASA (Sudut Baca Asik) sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman dan edukatif.
Panen Karya, Kreativitas Siswa Naik ke Panggung
Potensi siswa juga mendapat ruang melalui program Panen Karya yang dilaksanakan setiap akhir semester.
Bukan hanya pameran tugas sekolah, kegiatan tersebut dikemas melalui pagelaran seni budaya, pameran proyek inovasi P5 serta Bazar Kewirausahaan dan Kuliner.
Produk kreatif dan makanan hasil olahan siswa dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Sekolah dengan demikian mencoba mempertemukan kreativitas, budaya, pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman kewirausahaan dalam satu ruang.
Model semacam ini penting karena keberhasilan siswa tidak semata-mata diukur dari nilai ujian. Kemampuan menciptakan karya, bekerja sama, berkomunikasi dan melihat peluang ekonomi juga menjadi bagian dari kompetensi generasi masa depan.
Demokrasi Dikenalkan Sebelum Anak Memegang Hak Pilih
Transformasi pendidikan di SMAN 1 Pasangkayu juga menyentuh aspek kewarganegaraan.
Pada 22 Juli 2026, sekolah menjadi lokasi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Pemula yang diselenggarakan KPU Provinsi Sulawesi Barat dan difasilitasi KPU Kabupaten Pasangkayu. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kejaksaan Negeri Pasangkayu.
Kejaksaan Negeri Pasangkayu mencatat kegiatan itu diarahkan untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pentingnya partisipasi dalam demokrasi. Materi yang diberikan juga mencakup kesadaran hukum, integritas serta tanggung jawab generasi muda dalam menggunakan hak pilih.
Kepala SMAN 1 Pasangkayu Ahfaz turut hadir bersama jajaran KPU dan Kejaksaan dalam kegiatan tersebut.
Langkah ini memperlihatkan bahwa pendidikan demokrasi tidak harus menunggu siswa memasuki usia dewasa. Kesadaran tentang hukum, integritas dan tanggung jawab sebagai warga negara dapat mulai dibangun sejak bangku sekolah.
Menyiapkan Generasi yang Tak Hanya Cerdas, tetapi Adaptif
Berbagai program tersebut memperlihatkan arah yang relatif jelas: SMAN 1 Pasangkayu mencoba membangun pendidikan dengan pendekatan yang lebih luas.
Teknologi digunakan untuk memperluas akses belajar. GEMAR memperkuat hubungan keluarga dan sekolah. PESONA menanamkan kepedulian lingkungan. Panen Karya membuka ruang kreativitas dan kewirausahaan. Sementara edukasi pemilih pemula menjadi bagian dari pembentukan karakter kewarganegaraan.
Portal resmi sekolah sendiri menempatkan visi tersebut dalam kerangka membangun ekosistem pendidikan inovatif berbasis teknologi dan penguatan karakter bagi generasi masa depan di Sulawesi Barat.
Tantangannya kini bukan sekadar menciptakan program, melainkan memastikan seluruh inovasi tersebut berjalan konsisten, terukur dan benar-benar dirasakan siswa.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah transformasi pendidikan bukan seberapa banyak program yang diluncurkan, melainkan seberapa jauh program itu mampu mengubah pengalaman belajar siswa dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan.
Dari Pasangkayu, sebuah pesan sedang dibangun: sekolah masa depan bukan hanya tempat siswa mengejar nilai, tetapi ruang untuk belajar teknologi, membangun karakter, berkarya, peduli lingkungan, memahami demokrasi dan berani menciptakan masa depannya sendiri.
#Fikran


