Oleh: Ali Mansur Monesa
Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI Periode 2026-2029
bidikterkini.com | Jika Soekarno adalah singa podium, maka HOS Tjokroaminoto adalah yang mengajari singa itu mengaum. Pejalajan etis tentang perjuangan kau syarikat islam maka sebagai anak kandung organisasi pelopor peradaba tentu punya tanggaun jawab moral untuk melangjutkan dan menjaga spirit itu. Dan saya sebut ini sebagai perinta ideologis.
Sejarah sering mencatat murid yang lebih terkenal dari gurunya. Soekarno, Semaoen, Kartosuwiryo, Musso — semua adalah murid dari satu orang yang sama: Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Sang Guru Bangsa. Bapak Pergerakan.
Di rumah sederhana di Gang Peneleh, Surabaya, Tjokroaminoto tidak hanya mengajarkan cara berpidato. Ia mengajarkan tiga hal yang hari ini justru hilang dari Republik ini: Tauhid, Ilmu, dan Siasah. Tiga kata yang kemudian menjadi napas perjuangan PB SEMMI.
1. Tauhid: Politik Bukan untuk Menjilat Kuasa
Bagi Tjokro, politik tanpa Tauhid adalah penindasan. Tauhid artinya keadilan sosial. Artinya, Islam tidak boleh hanya menjadi hiasan seremonial di istana, tapi harus menjadi alat pembebasan bagi rakyat kecil.
Hari ini, apa yang kita lihat? Politik kita kehilangan Tauhid. Konstitusi ditafsirkan demi keluarga, bukan demi rakyat. Kekuasaan diwariskan seperti kerajaan. Padahal Tjokroaminoto mengajarkan: _“Setinggi-tingginya ilmu, setinggi-tingginya iman, setinggi-tingginya akal.”_ Bukan setinggi-tingginya kepentingan keluarga.
Tjokro mendirikan Sarekat Islam bukan untuk menjadi partai penguasa, tapi untuk melawan kapitalisme kolonial yang mencekik pribumi. Pertanyaannya: di mana keberanian itu hari ini ketika kapitalisme oligarki jauh lebih kejam dari kapitalisme kolonial?
2. Ilmu: Literasi Republik yang Dimatikan
Tjokro adalah jurnalis, penulis, dan orator. Ia mendirikan majalah, koran, dan sekolah. Ia percaya, penjajahan paling berbahaya bukan penjajahan fisik, melainkan penjajahan pikiran.
Dan hari ini, penjajahan pikiran itu kembali. Buzzer dibayar untuk membungkam kritik. Literasi dimatikan dengan bansos, hegemoni kekuasaan, dan politik joget-joget. Kampus dibuat takut untuk bersuara.
Padahal cita-cita Tjokro jelas: Indonesia masa depan harus dipimpin oleh manusia-manusia yang berilmu, bukan manusia-manusia yang viral. Indonesia masa depan harus dibangun di atas perpustakaan, bukan di atas pencitraan.
Di sinilah relevansi PB SEMMI. Jika Tjokro adalah Guru Bangsa, maka SEMMI adalah penjaga rumahnya. Tugas kita bukan hanya demonstrasi, tapi menyalakan kembali gerakan LITERASI REPUBLIK
3. Siasah: Kedaulatan Tidak Diberikan, Tapi Direbut
Pelajaran terbesar dari Tjokro adalah tentang Siasah. Siasah yang berani.
Tjokro tidak pernah takut dipenjara. Ia tidak pernah takut miskin. Baginya, politik adalah ibadah untuk merebut kedaulatan. Bukan untuk menumpuk jabatan.
Cita-cita mulia Tjokro untuk masa depan Indonesia bukanlah Indonesia yang sekadar merdeka secara bendera. Tapi Indonesia yang merdeka secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara budaya. Inilah yang kemudian diwarisi Soekarno menjadi Trisakti.
Apakah hari ini kita sudah Trisakti?
Secara ekonomi kita masih tergantung utang dan investasi yang menggusur rakyat. Secara politik kita masih disandera dinasti. Secara budaya kita masih lebih bangga dengan budaya luar daripada budaya sendiri.
Maka 28 Oktober, dan setiap hari setelahnya, adalah panggilan untuk kembali ke Tjokro.
Jalan Pulang ke Peneleh
Masa depan Indonesia yang mulia tidak akan lahir dari istana. Ia akan lahir dari gang-gang sempit seperti Peneleh, dari kontrakan mahasiswa, dari masjid-masjid kampus, dari diskusi-diskusi kecil yang jujur.
PB SEMMI harus kembali menjadi rumah Tjokroaminoto. Rumah yang melahirkan pemimpin, bukan pengekor. Rumah yang mengajarkan keberanian, bukan penjilatan.
Tjokroaminoto pernah berkata: _“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”_
Hari ini, Ketua-Ketua SEMMI di seluruh Indonesia harus menulis kembali masa depan Republik ini. Dan harus berani mengatakannya di podium-podium kekuasaan.
Bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. Bukan di tangan keluarga penguasa.
TAUHID • ILMU • SIASAH


