PASANGKAYU — Bidikterkini.com | Tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berfokus pada nilai akademik. Sekolah juga harus mencetak generasi yang adaptif, berkarakter, dan kreatif. Oleh karena itu, inovasi pendidikan SMAN 1 Pasangkayu terus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman.
Di bawah kepemimpinan Ahfaz, S.Pd., M.Pd., SMAN 1 Pasangkayu menghadirkan ekosistem belajar yang menyeluruh. Program ini menggabungkan teknologi digital, karakter, keterlibatan orang tua, hingga pendidikan demokrasi.
Transformasi Digital dan Metode Pembelajaran Modern
SMAN 1 Pasangkayu memanfaatkan teknologi digital melalui Learning Management System (LMS) Master Study Lophia. Platform ini menyediakan modul video, kuis interaktif, dan ujian digital yang fleksibel.
Selain itu, sekolah menerapkan pendekatan Deep Learning yang meliputi:
Mindful Learning: Pembelajaran yang berkesadaran.
Meaningful Learning: Pembelajaran bermakna lewat pengalaman nyata.
Joyful Learning: Proses belajar yang menyenangkan.
Penguatan Karakter dan Kepedulian Lingkungan
Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di dalam kelas. SMAN 1 Pasangkayu melibatkan peran keluarga dan lingkungan sekitar melalui dua program unggulan:
Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor): Program ini mendorong keterlibatan langsung para ayah dalam pendidikan anak.
Program PESONA (Sekolah Nol Sampah): Didukung oleh gerakan LISA (Lihat Sampah Ambil) dan SAPULANG untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan.
Ruang Kreativitas dan Pendidikan Demokrasi
Untuk mengasah potensi siswa, sekolah menggelar Panen Karya P5 pada akhir semester. Kegiatan ini menjadi wadah pameran proyek, pertunjukan seni, serta bazar kewirausahaan siswa.
BACA: Makassar | infoglobalnews.id | Bertemu di salah satu Warkop Jl. Galangan Kapal Raya, Ketua LSM PERAK Indonesia, Adiarsa MJ, SE, SH, MH dan Kepala SMA Al Muttaqien, Muhammad Rais Samad membahas beberapa poin yang wajib dievaluasi pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan baik Gubernur, Walikota, Bupati dan Kepala Dinasnya. Rais Samad mengatakan, sebagai salah satu Kepala Sekolah swasta sekaligus pemerhati pendidikan tentunya sangat prihatin dengan kondisi pendidikan di Sulawesi Selatan. "Sekolah swasta di luar yang punya funding besar sangat memprihatikan dan jauh dari perhatian pemerintah. Baik dari segi bantuan stimulan maupun pada saat PPDB," ungkapnya saat diwawancarai, Kamis (2/1/25). Ia juga menyampaikan, jika suara sekolah swasta tidak dipedulikan dan seakan secara massif untuk dimatikan melalui kebijakan dari Disdik Provinsi maupun kota. "Bayangkan tiap PPDB sudah menambah waktu penerimaan ditambah lagi kelasnya. Terus sekolah kami dapat apa," beber pria yang juga sebagai Dewan Penasehat MKKS SMA Swasta se-Kota Makassar ini. Pria yang juga akrab disapa Abah Rais ini juga meminta Pemerintah dalam hal ini Gubernur Sulsel dan Walikota Makassar turun tangan melihat persoalan ini. "Kalau begini terus tentunya akan terjadi kesenjangan memprihatinkan antara sekolah negeri dan swasta. Dan imbasnya sekolah yang tidak mampu bertahan akan tutup," tambahnya. Sementara itu, Ketua LSM PERAK, Adiarsa juga menyayangkan kebijakan pemerintah lewat Disdik malah ditengarai sebagai perusak sistem pendidikan khususnya di Sulsel. "Selain proses PPDB yang tidak fair tentunya kita bisa lihat gerakan tambahan yang dilakukan Disdik Sulsel maupun Disdik Kota," ucap Adiarsa. Lanjut Adiarsa, kami melihat beberapa tahun terakhir ini juknis selalu dilanggar, Disdik seenaknya menambah kuota dengan dalih pemenuhan kuota padahal sudah tambah kelas untuk tingkat SMA. "Bahkan lebih parahnya lagi di tingkat SMP, ada 1.600 siswa yang tidak terdaftar di dapodik tahun 2024 alias siswa gantung. Ini semua karena sekolah menerima secara bar-bar dengan dalih semua anak harus sekolah," jelasnya. Lebih jauh Adiarsa mengungkapkan, jika banyak oknum-oknum yang ikut merusak tatanan pendidikan. "Hasil investigasi kami di lapangan jelas oknum dewan maupun Pemkot terkesan memaksakan orang-orangnya untuk diterima. Begitupun di tingkat Provinsi, boleh ditanya langsung para Kepseknya," ucap pria yang juga berprofesi sebagai Pengacara ini. Jadi menurutnya, persoalan pendidikan maupun PPDB masyarakat sudah kehilangan kepercayaan dan anggaran untuk PPDB tiap tahunnya habis percuma. "Ngapain ada PPDB pakai bajet APBD kalau semuanya bisa disetting kan pemborosan anggaran," terangnya lagi. Ia juga ikut prihatin dengan kondisi sekolah swasta yang setiap tahunnya mengalami ketidak Adilan dari kebijakan Dinas Pendidikan. "Jika meragukan kualitas dan kuantitas sekolah swasta yah beri mereka perhatian kepedulian dan bantuan stimulan bukan malah menambahkan beban dengan tidak memberikan asas keadilan pada saat PPDB sehingga ada bahkan sekolah tidak mempunyai murid yang mendaftar sama sekali karena sudah diborong sekolah negeri," tambah Adiarsa. Adiarsa juga mengatakan, jika sekolah swasta semakin terpuruk lagi selain siswa penerima PIP yang sangat sedikit, para PPPK yang baru terangkat juga tentunya tidak mengajar lagi di sekolah swasta. "Persoalan tenaga SDM yang terangkat sebagai PPPK juga akan memberikan masalah baru dan tentunya berimbas ke sekolah swasta lagi," pungkasnya. Iapun mendesak Gubernur Sulsel dan Walikota Makassar segera mengevaluasi sistem dan pelaksanaan pendidikan di Sulawesi Selatan. Dimana PPDB tahun 2024 dianggap sebagai PPDB paling buruk dalam beberapa tahun terakhir. *Perak* Editor : *Muhammad Ichiro Zaki Ramadan*
Selain itu, SMAN 1 Pasangkayu bekerja sama dengan KPU Sulawesi Barat dan Kejaksaan Negeri Pasangkayu. Kolaborasi ini bertujuan memberikan edukasi pemilih pemula dan kesadaran hukum bagi para siswa.
Melalui berbagai langkah strategis ini, SMAN 1 Pasangkayu membuktikan komitmennya dalam merawat inovasi dan mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi masa depan.
Views: 27